Rabu, 22 Desember 2010

Karya Tulis Proses Tenun Ikat

PROSES PRODUKSI TENUN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM)





Oleh:
H. Hadi Suyanto
Alamat: Jalan Masjid Wali Datuk Ampel Troso Selatan RT: 01 RW: 02, Desa: Troso, Kecamatan: Pecangaan, Kabupaten: Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, Kode Pos: 59462. Call / SMS Order: +6287832488931 / +6287832607810
E-mail: tiaratenunikattroso@yahoo.com atau zaboleet@yahoo.com
Website: http://www.tiaratenunikattroso.blogspot.com, www.facebook.com/tiaratenunikattroso


UNIT PELATIHAN INDUSTRI KECIL MENENGAH
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
PROPINSI KALIMANTAN BARAT
TAHUN 2010



I.    PENDAHULUAN
Untuk rencana membuat tenun ikat, yang dipersiapkan dahulu adalah mesin ATBM, alat mengeteng benang dan lain-lain. Dalam membuat kain tenun ikat harus ada rencana (planning), bahan-bahan yang diperlukan dan rancangan. Misalnya benang apa yang digunakan, lebar/panjang berapa yang dibuat, nomer berapa sisir yang digunakan.
Membuat Tenun Ikat ada 2 macam :
1.    Tenun ikat lusi
2.    Tenun ikat pakan

II.    PEMBAHASAN
A.    PROSES MEMBUAT TENUN IKAT
1.    PROSES IKAT LUSI
 
Gb. Rak Benang

Gb. Sisir & Mata Gun

Gambar Alat Ketengan/Plangkan

Cara kerja:
·    Benang ditarik ke atas paralon yang ada pakunya.
·    Kemudian benang dimasukkan ke sisir/papan silangan. Setelah itu, masukkan ke mata gun (satu di luar dan satunya di mata gun).
·    Benang ditarik, baru diikatkan pada besi ketengan. Setelah itu, diinsur (diawil/disusun) atas bawah, ketengan dalam posisi terlentang horizontal/rata. Sekalian nomer putaran diatur ulang mulai nol, baru benang disusun/dirapikan treng-trengannya.


Gambar  Alat Keteng
Keterangan:
a.    Papan pengunci/ penahan benang
b.    Benang yang disimpul
c.    Tali raffia awilan setengah
d.    Tali penyusun/ ngingsur/ awilan
e.    Penahan benang
f.    Tali penyusun
g.    Benang yang digunting/diputuskan, ujungnya disimpul dulu baru dililitkan pada treng-trengan.
h.    Tali raffia awilan atas bawah



Gambar Plangkan dalam Posisi Terbalik

Setelah posisi nol, benang siap diputar sebanyak yang diinginkan. Sebelum benang digunting/diputus, jangan lupa awilan kedua. Setelah diawil, benang diputus dan ujung benang disimpulkan. Lalu dililitkan pada treng-trengan.
 
Gb. Motif      



Gb. Plangkan Yang Diikat


Setelah benang penuh/sesuai keinginan, Plangkan diturunkan. Barulah masuk pada pembuatan gambar dan motif. Benang yang sudah digambar, diikat sampai selesai. Baru benang dilepas dari Plangkan. Untuk melepaskan benang dari Plangkan, tali raffia diikatkan pada besi Plangkan. Baru dimasukkan pada benang awilan pertama. Lalu dilepas secara perlahan, setelah itu, masuk pada proses pencelupan/pewarnaan.

a)    Proses Pencelupan
Benang dicuci terlebih dahulu dengan deterjen maupun sabun dan air panas. Baru dipukul-pukul biar airnya menyerap sampai ke benang bagian dalam. Biar proses pencelupan berjalan dan hasilnya lebih bagus.
b)    Proses Ngerambang/Perpaduan Warna
Setelah proses pencelupan selesai, benang sudah kering lalu kita ngerambang benang. Maksudnya untuk memadukan warna.
Caranya adalah:
  • Benang yang sudah diwarna kita gantungkan pada bambu kemudian benang kita rapikan.
  • Tali raffia kita ikatkan pada bambu dengan kencang dan kuat untuk dimasukkan dalam benang.
  • Kita ikatkan lagi tali raffia, yaitu 2 utas tali raffia untuk awilan bagian atas.
  • Setelah itu, dua tali raffia berikutnya untuk awilan benang bagian bawah untuk bagian luarnya.
  • Benang yang sudah dirambang diberi nomer. Biar nanti kita tidak susah mencari letaknya.

Gambar Ngerambang
  • Setelah ngerambang selesai, barulah masuk proses pembongkaran.
  • Proses pembongkaran Ikat Lusi sama halnya dengan Ikat Pakan. Yaitu benang dimsukkan ke dalam alat bongkaran menurut nomer masing-masing kemudian dirapikan. Ujung benang diikatkan pada kayu bongkaran yang ada di tengah. Setelah benang rapi, treng-trengan dibuka pelan-pelan kemudian benang treng-trengan dinaikkan pada alat boom. Masukkan pada sisir sebelum diikatkan pada kayu penggulung, motif/gambar harus dirapikan biar bagus. Setelah diikatkan dan dirapikan dengan sisir, kemudian benang disangkutkan pada balok yang ada pakunya. Dan saatnya proses diboom.


Gambar Ngeboom

2.    PROSES IKAT PAKAN
Benang dipersiapkan pack-packan/kones dan disepul sebanyak 50 -60 Sepul.
Untuk menyepul kita gunakan alat seperti ini :



Gambar Alat Sepul

Selain alat ini, bisa juga menggunakan mesin dynamo bagi yang sudah mampu. Setelah sepulan sudah siap, rak sepulan benang dan alat ngeteng dipersiapkan.
Benang dimasukkan pada skesel (gantungan benang) sebanyak yang kita inginkan.
 
Setelah itu, benang ditarik kemudian masukkan pada sisir atau papan selangan (satu di atas dan satu di bawah). Lalu dimasukkan ke mata gun (satu di luar dan satu di dalam mata gun).
 
Kalau semua benang sudah masuk ke mata gun, benang ditarik kemudian disimpulkan pada besi Plangkan. Baru benang siap diketeng. Untuk mengeteng, Ikat Pakan tidak bisa dipakai alat hitung (conter). Kita harus memakai pikiran (insting) yang cermat dan cerdas.
Benang yang sudah dimasukkan di tempat sepul/ditarik ke silangan terus ke gun. Kemudian benang diikatkan pada besi Plangkan.
Benang diketeng antara 100 sampai 105 Treng sesuai yang diinginkan. Setiap treng juga menurut keinginan sendiri. (setiap treng antara 2 sampai 4 tumpuk).

Gambar Plangkan

Untuk gambar/motif juga bebas sesuai kreasi sendiri-sendiri. Setelah digambar kemudian diikat dan setelah sudah jadi benang dilepas dari Plangkan seperti gambar di atas.
Untuk melepas benang dari Plangkan, antara proses Ikat Lusi dengan Proses Ikat Pakan sangat berbeda. Untuk Ikat Lusi, yang dilepas/dibuka adalah besinya. Sedangkan Ikat Pakan itu bagian yang dibuka/dilepas adalah bagian samping atau kayunya. Lihat gambar sebagai berikut.

Gambar Plangkan

a.    Proses Pewarnaan
Benang yang sudah diikat tadi, direndam dan dibilasi dengan sabun ditambah air setengah panas. Kemudian dikopyok dan dipukul berkali-kali supaya benang yang di sela-sela ikatan bisa terserap air. Lalu diperas supaya kadar sabunnya hilang ±50% kemudian diulangi lagi dengan air yang banyak supaya air sabun betul-betul hilang lalu diperas (dihilangkan kadar airnya paling tidak kira-kira ±25%). Selanjutnya pewarnaan.
Untuk pewarnaan, kita bisa menggunakan warna alam ataupun obat lainnya. Misalnya Naptol, Indantren, Sliper (Sulfur), Direx, Base dan lain-lain.
Untuk pencelupan dapat juga dilakukan berkali-kali, mau 2-4 kali terserah keinginan kita.
Setelah pewarnaan selesai dilakukan, benang dijemur sampai kering, dan ikatan-ikatan pada motif bisa dilepas/dibuka dengan Solder biar benang tidak putus jika ikatan-ikatan raffia dilepas.
b.    Proses Pembongkaran Ikat Pakan
Sebelum masuk proses pembongkaran, terlebih dahulu benang dibentangkan dahulu. Setelah itu, diawil silang tiap treng-trengnya sebelum dibongkar. Kemudian masukkan dalam alat bongkaran.

Gambar Alat Bongkar Ikat pakan

Setelah benang selesai dibongkar menjadi heng-hengan, benang sudah siap untuk ditenun.
c.    Mempersiapkan Lusi Untuk Ditenun
Benang heng-hengan sebanyak kemampuan kita, entah 5 atau 10 kg. pembagian bebas, entah membagi 5-7 kemudian dicuci dengan air panas ditambah air sabun diputar (digiling) dengan tangan sampai basah dengan rata lalu dibilas sampai sabunnya hilang.
d.    Proses Pewarnaan Ikat Lusi
Proses pewarnaan Ikat Lusi sama seperti Proses Ikat Pakan. Ingin pakai warna Naptol, Indantren, Base ataupun Sliper. Selesai pewarnaan dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa-sisa zat warna kimia yang bisa merusak benang.
Supaya benang tetap keras (tidak lembab), benang yang sudah diwarna/motif dan dicuci, dimasukkan ke dalam larutan kanji (Tepung) yang dicampuri Sampoo, minyak kelapa, minyak tanah, Ramasit lalu diperas kira-kira kadar air tinggal 25%. Kemudian dijemur dikethek-kethek supaya benang tidak kusut, sehingga nyepul ataupun yang nenun tidak mengalami kesulitan.
e.    Proses Boom
Benang dimasukkan didalam Sekesel satu per satu. Benang ditarik ke silangan kita kumpulkan jadi satu ujungnya disimpulkan. Kemudian disangkutkan pada paku. Digulung menurut keinginan masing-masing. Misalnya 100 gulung atau 50-20 kali.
Sebelum mengeboom kita harus mempunyai rencana, mau pakai sisir berapa, ingin lebar berapa dan ingin panjang berapa, semua harus dihitung atau direncanakan dahulu. Proses mengeboom itu seperti proses mengeteng Ikat Lusi.
 

Sepul yang ada di Sekesel ada 200 Sepul. Sedangkan rencana mau buat kain 1 Meter, sisir yang digunakan adalah 70, jadi 70x20x2=2800 Helai benang ditambah 200 Helai untuk Persiapan. Seumpama Ikat Pakan lembab, berarti kita                menyiapkan benang 3000 Helai. Ketika kita menggulung, 1 kali menggulung hanya 200 Helai benang.
Berarti kita harus menggulung sebanyak 15 kali. Jadi 15x200=3000 Helai benang dipindah ke boom kecil yang ditempatkan ke ATBM. Mengeboom bisa juga dibilang menjejer benang, yang banyaknya menurut keinginan kita masing-masing.

Setelah boom kecil masuk ke ATBM, kita harus mengetahui berapa banyak gun yang dipakai. Seandainya di atas 2000 Helai benang, kita harus pakai gun baris 4 (pada gambar II), jikalau hanya di bawah 2000 Helai pakai gun baris 2 (pada gambar I). 
 
Gbr I. Gun baris 2

Gbr. II. Gun Baris 4

Untuk memasukkan benang (menyucuk benang) di ATBM. Gun yang sudah terpaku pada bingkai ditarik ke belakang dimasukkan benang satu persatu sampai selesai. Saat nyucukkan benang, posisi sisir harus dibalik diatas. Saat digerakkan/digoyang, posisi sisir di bawah.


B.    PROSES PEWARNAAN
1.    Proses Naptol
Siapkan 2 ember besar, satu untuk obat dan yang satunya garam. Kalau kita menggunakan Naptol, Obat+kustik (Caustic) dilarutkan dengan air yang mendidih. Setelah larut semua ditambahkan dengan air biasa dengan ukuran secukupnya sampai benang tenggelam. Setelah itu, diangkat dan diperas tuntas kira-kira kadar air 25%. Terus dimasukkan ke dalam ember ke-2 yang berisi garam/obat garam sampai proses dari obat-garam-obat-garam. Prosesnya sama.
  • UNTUK WARNA NAPTOL

Obat    :  AS    ASG    ASBO    ASBS    ASD     ASOL    ASLB    ASD      
Garam :  MB    MR    MGG        Biru B    Biru BB    M. GC    VIOLET   

Kalau Base prosesnya sama dengan Naptol, hanya harganya agak murah/lebih murah. Cuma campuran agak banyak. Ada Nitrit, air keras (Cuka). Setelah mengeluarkan warna yang ditentukan, kemudian dibilas dengan air supaya sisa warna betul-betul bersih.
2.    Proses Indantren
Indantren adalah gabungan antara warna dengan hidrus sulfit dan kustik (Caustis).
Caranya adalah : Persiapkan air mendidih 50%, air biasa 50%, dan dalam perbandingan [ Wenter(warna) 1 : Kustik 1 : Hidrus 2].
Dilarutkan dengan air mendidih 50% ditambah air biasa 50% diaduk rata. Untuk hidrus sebelum air mendidih, jangan dulu dibuka. Begitu juga ember harus kering. Karena 5 menit saja terbuka Hidrus tidak dapat bereaksi menghasilkan warna. Begitu juga kalau kita tumpahkan ke dalam ember yang basah tidak bisa menghasilkan warna.
Warna Indantren adalah :
Green B, Olip Green, Olip T, GCN, Pink, Blue RSN, Blue RS, Bron BR.
3.    Proses Sliper (Sulfur)
Proses pewarnaan sliper ada 2 cara, yaitu :
a.    Cara seperti Indantren.
b.    Cara direbus sampai mendidih. Artinya benang dimasukkan air dalam keadaan mendidih dan biasanya menghasilkan warna hitam. Setelah itu, baru dibilas dengan air cuka. Diulangi dengan air sabun, baru terakhir dibilas dengan air biasa, karena air cuka adalah air keras.
4.    Proses Direx (Prossion)
Untuk proses Direx (Prossion) ada beberapa cara :
a.    Warna Direx (Prossion) ditambah Soda AS dilarutkan dengan air panas. Kira-kira air panasnya 20-50% panasnya, ada juga yang 75% panasnya lalu dibilas dengan air Viksanol.
b.    Warna Direx + Soda Kue dilarutkan dengan air panas ditambah air biasa. Masukkan benang, diangkat, dijemur di rak, kemudian dicuci dengan air dingin yang sudah dicampur Viksanol untup menutup Warna biar tidak luntur.

III.    PENUTUP
Demikianlah penulisan Karya Tulis ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam karya ini. Untuk itu kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan karya tulis, dan semoga Karya Tulis ini bisa bermanfaat buat kita semua. Penulis mengucapkan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar