Sabtu, 26 Juli 2008

Sekilas Tentang Troso

 J
ika ada yang menanyakan kerajinan tangan asal Jepara, apa yang terlintas dalam benak Anda? Sebagian besar penduduk Indonesia akan menyebutkan kerajinan tangan ukir-ukiran.Tidak dipungkiri bahwa kerajinan ukiran Jepara sangat terkenal hingga ke Mancanegara. Namun satu karya khas Jepara yang seringkali terlupakan, yaitu kerajinan tenun yang berasal dari Desa Troso, Tenun Troso.
Gerbang Utama Masuk Sentra Industri Tenun Troso

Kualitas dari tenun Troso memang tidak perlu diragukan, karena sebagian besar produksi tenun Troso dibuat dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin. Selain itu, proses pengerjaannya dilakukan dengan ketrampilan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat desa Troso Kabupaten Jepara, hingga keluwesan corak tetap terjaga.

Sentra tenun ikat tradisional di Troso merupakan salah satu industri kecil yang memiliki peluang dikembangkan sebagaimana mebel ukir. Meski tidak semaju 1990-an, industri itu tetap memberikan kontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat Troso dan Jepara pada umumnya. Pada 1997-1998, industri tenun ikat troso terpuruk. Itu tidak lepas dari kondisi perekonomian nasional yang yang memburuk. Akan tetapi, industri yang mengandalkan mesin tradisional itu tidak berarti mati. Pada 2000, industri kerajinan itu mulai bangkit lagi. Pada masa keemasannya hampir setiap rumah di Desa Troso memiliki mesin tenun. Pada 1998 tercatat ada 165 unit dan 2001 turun menjadi 96 unit. Sekarang, jumlah mesin tenunnya meningkat lagi, 114 unit. (Suara Merdeka, 05 Juli 2004).
Meski volume penjualan menunjukkan kecenderungan fluktuatif, tetapi sampai sekarang tenun Troso masih tetap berkibar sebab proses pemasaran tetap berjalan baik. Tidak ada kendala dalam proses produksi. Tidak ada kesulitan menyangkut desain produk maupun peningkatan kualitas. Kualitas produksi relatif baik dan diterima pasar. Tidak ada limbah produksi, sedang tenaga kerja terampil cukup tersedia dan mudah didapat. Namun, UKM tenun Troso mempunyai banyak kelemahan, seperti mayoritas perusahaan perorangan, antara lain terbatasnya modal, belum pernah mendapatkan pembinaan dalam bidang pengelolaan keuangan, pengelolaan sumber daya manusia, dan pemasaran. Sistem pembayaran atas penjualan produk masih secara kredit hingga peralatan produksi masih tradisional. (Harian Kompas, 14 Mei 2007)
Pemasaran produk kerajinan tenun Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah hingga kini masih terfokus pasar domestik, padahal potensi untuk memasarkan produk ini ke luar negeri sebenarnya terbuka. (Kapanlagi.com, 25 September 2006)
Kain Troso dibuat dengan alat tenun tradisional (non-machine) atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Proses produksi dari benang terus proses pewarnaannya sampai menjadi kain yang mempunyai nilai seni tinggi dilakukan dengan ketrampilan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat desa Troso, kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini.
Tenun Troso menghasilkan kain jenis Misris, Lurik Troso, Motif SBY, Sekap, Antik (Bed Cover, Taplak, Tikar, Sajadah, Selendang, Syal, Korden, dll), Sutra Alam, Batik dan Natural dengan berbagai corak. Salah satu keistimewaan tenun Troso adalah mempu mengadaptasi berbagai corak dari berbagai budaya baik Nasional maupun Internasional.

Cocok dengan sebutanya, kerajinan Tenun Ikat Troso digeluti oleh masyarakat Desa Troso, Kecamatan Pecangaan. Dari kota Jepara, desa industri ini berjarak sekitar 15 km. arah Tenggara. Dari keterampilan yang membuat tenun ikat sudah dimiliki oleh warga Desa Troso sejak tahun 1935, yang bermula dari Tenun Gendong warisan turun-temurun. Tahun 1943, mulai berkembang Tenun Pancal dan kemudian pada tahun 1946 beralih menjadi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), sampai sekarang. Keterampilan ini terus berkembang. Varian produk-produk baru berhasil dimunculkan para pengrajin seiring perkembangan zaman. Setelah serangkaian pameran disertai upaya peningkatan kualitas sesuai dengan permintaan pasar, industri kerajinan ini semakin dikenal, bukan saja di dalam negeri tetapi juga pasar internasional. Pengusaha mengandalkan pintu pasar di Bali, Lombok, Pekalongan, Jogjakarta, dan Jakarta.
ATBM RAKSASA (UK. 3m)

Perkembangan tenun ikat Troso ini dapat dilihat dari jumlah unit usahanya yang mencapai 250 buah yang mampu menyerap lebih dari 2.500 tenaga kerja. Nilai produk yang dihasilkan sepanjang tahun 2008 mencapai lebih dari Rp. 221 miliar. Di Jepara, tenun Troso merupakan seragam resmi PNS dan karyawan BUMD setiap hari Kamis – Sabtu. Setelah diberlakukan lima hari kerja, tenun Troso dipakai sebagai seragam pada hari Kamis dan Jum'at.
Apalagi di tahun 2010, pihak PEMPROV sudah memutuskan kepada PNS se-Jawa Tengah diberlakukannya untuk wajib pakai seragam batik lurik Troso pada hari Rabu dan Kamis selama hari kerja. Ini merupakan kesempatan emas bagi pengusaha tenun Troso, semakin banyak pesanan dan banyak yang beli sampai-sampai barang kosong alias kewalahan. Tetapi dalam kesempatan emas ini banyak juga yang main curang, barang asli yang biasanya berasal dari benang Combed Gassed Mercerised (CGM) Import dari India Utara malah kebanyakan pengusaha Troso menggunakan dari benang Croto (poly-ester). Jadinya, yang kualitas bagus, dipakai juga nyaman malah berubah menjadi kualitas kurang dan dipakai itu panas (tidak nyaman). Dan dari perusahaan Tiara ini tetap menggunakan bahan yang bisa menjaga kualitasnya, nyaman, dan terjangkau. (Muhammad Ya’kub, Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN WALISONGO SEMARANG)
Muhammad Ya'kub (Putra H. Hadi Suyanto, pemilik Tiara)